Resensi Novel Pintu Terlarang

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur marilah kita ucapkan atas kehadirat allah yang maha kuasa, karena atas izinnya jualah saya bisa menyelesaikan makalah tentang analisis unsur intrinsik dalam novel DOA IBU karya Sekar Ayu Asmara ini. Salawat beserta salam juga saya ucapkan kepada nabi Muhammad Saw.

Pertama-tama saya mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing  yakni  Zulfadhli, S.S, M.A karena telah mengajarkan tentang telaah prosa, sehingga saya bisa menyelesaikan makalah ini. Selanjutnya saya juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman karena telah membantu saya dalam menyelesaikan tugas ini.

Akhirnya demi menyempurnakan tugas ini, saya sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak.

Padang, 26 Oktober 2011

Tatit Hari Pamungkas

BAB I

PEMBAHASAN

Resensi Novel

Sang anak berumur sembilan tahun. Ia mempunyai ibu bernama Melati yang seorang kembang desa dan seorang ayah bernama dr. Koentoro. Mereka adalah tipe orangtua yang menganiaya anak mereka sendiri kendati sebenarnya kesalahan sang anak cukup sepele. Pernah ia dipaksa menelan kecoa, diikat di pohon dan ditumpahkan setoples penuh berisi semut merah, ditenggelamkan, ditendang, dan berbagai penganiayaan tak bermoral lainnya. Sang anak didoktrin bahwa segala perlakuan itu dilakukan karena itu adalah bentuk kasih sayang orangtua. Sang anak menjadi sosok yang penyendiri, lama kelamaan dirinya mulai sering berimajinasi bahwa ia adalah sesuatu yang bukan dirinya, agar ia tidak perlu merasakan pahitnya penderitaan. Cerita ini berakhir dengan sang anak yang di sekolahnya, diam-diam mencuri sebilah pisau di kantin sekolah dan pada malamnya, ia seperti dibisikkan oleh benda-benda disekelilingnya untuk menggunakan pisau tersebut. Sang anak akhirnya membunuh kedua orangtuanya sendiri, namun suara-suara kembali membisikannya untuk memotong tangan kirinya yang telah menghunjamkan pisau di tubuh Melati dan Koentoro. Iapun memotong tangan berikut setengah lengan kirinya.

Alur

Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur inkonvesional, mula-mula menceritakan kisah gambir pada umur 9 tahun, kemudian pada bab berikutnya menceritakan tentang kehidupan Gambir dalam kehidupan khayalnya, ada suatu saat menceritakan lagi tentang kehidupan Gambir pada umur 9 tahun bagaimana ia disiksa oleh orang tuanya. Dan akhirnya, menceritakan tentang Gambir yang sebenarnya dalam dunia nyata, bahwa ia adalah seorang pasien Rumah Sakit Gila yang telah mendekam dalam sel isolasi hingga umur 27 tahun.

Penokohan

Tokoh utama dalam novel ini bernama Gambir, ia adalah seorang anak korban kekerasan orang tua, akibat kekerasan yang sering ia terima dari orang tuanya, ia mengalami gangguan mental, ia sering berkhayal. Pada akhirnya, ia tidak tahan lagi terhadap perlakuan orang tuanya, sehingga ia membunuh kedua orang tuanya. Kemudian ia diisolasi di Rumah Sakit Jiwa, dan ditempat itulah ia berimajinasi menjadi seorang pematung yang sukses.

Gambir berkhayal, ia mempunyai istri yang cantik, bernama Talyda. Talyda adalah seorang wanita yang perfeksionist. Talyda adalah seorang wanita karier. Hubungan Gambir dan Talyda bisa dikatakan, aneh karena Talyda yang gampang emosi saat Gambir melupakan dirinya saat ia mempunyai sebuah kesuksesan, seperti saat Gambir yang sukses besar karena pameran patung-patung perempuan hamil miliknya.

Gambir juga berkhayal memiliki ibu yang baik, bernama Menik Sasongko. Menik Sasongko adalah ibu yang selalu berkata lembut. Gambir juga memiliki kakak dan adik yang baik dalam dunia khayal Gambir, yaitu Damar dan Menur. Tetapi itu semua hanyalah khayalannya Gambir, dalam kehidupan nyatanya, ia tidak mempunyai saudara, bahkan tidak memiliki teman. Melati, ibu Gambir dalam dunia nyata, adalah ibu yang sangat kejam. Ia sangat membenci Gambir. Tak ada rasa kasihan terhadap Gambir, begitu juga dengan ayah Gambir, dr. Koenjtoro. Kisah Gambir dari umur 9 tahun sampai umur 27 tahun yang sangat tragis ini memikat perhatian seorang Gadis bernama Ranti. Ranti adalah seorang wartawati yang berumur 24 tahun, dan menjadi salah satu penulis artikel di Majalah Metropolitan, sebuah majalah yang mengkritisi kehidupan sosial. Ranti berkencan dengan seorang duda yang berprofesi sebagai seorang fotografer bernama Dion, dari pernikahan sebelumnya, Dion ditinggalkan istrinya saat sang istri melahirkan seorang anak bernama Edo yang kini usianya lima tahun. Ranti mulai terobsesi saat menulis artikel tentang seorang pria yang sakit jiwa akibat dulunya ia menjadi korban penganiayaan oleh orangtuanya dan kini dimasukkan ke sel isolasi selama 18 tahun. Kini ia berusia 27 tahun. Penelitiannya yang semakin dalam membuat sang pimpinan redaksi majalah Metropoliran, Mas Pram, sebal karena Ranti mendalami artikel terlalu jauh. Akhirnya, Ranti ingin mengadakan sebuah pesta tahun baru kejutan di rumah Dion, sampai disana ia menemukan Dion ternyata adalah seorang ayah yang menganiaya anaknya sendiri. Hal itu disebabkan Dion marah kepada Edo yang telah merenggut nyawa istrinya. Ranti tidak bisa menolong dan segera berteriak keluar. Warga sekitar rumah Dion ternyata telah mencurigai kelakuan Dion, namun tidak mempunyai bukti. Dion ditangkap polisi dan Edo yang telah dianiaya sedemikian parah, dibawa ke rumah sakit, dan meninggal. Ranti menguburkannya dan karena kejadian ini, artikel hasil penelitian Ranti terhadap pria gila itu dimajukan oleh Mas Pram yang prihatin. Ranti akhirnya mengatakan bahwa nama pria itu adalah Gambir.

Sudut Pandang

Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga diluar cerita. Pengarang sama sekali tidak terlibat dalam cerita. Pengarang menceritakan kisah tokoh yang tidak ada hubungannya dengan pengarang.

 

 

Gaya Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam novel ini mudah dipahami, karna banyak menggunakan bahasa sehari-hari. Yang membuat novel ini sulit dipahami karna alur yang digunakan adalah alur inkonvesional. Jadi, bila tidak membaca dengan seksama akan membingungkan kita.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: